

Kesuksesan pariwisata domestik didorong oleh beberapa segmen utama yang salah satunya adalah wisata MICE. Tak heran memang, lantaran seperti diketahui bersama wisatawan MICE memiliki pengeluaran lebih besar ketimbang wisatawan pada umumnya.
Indonesia negara kepulauan, tentu memiliki modal besar untuk menggarap pariwisata domestik. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pariwisata domestik terus mengalami peningkatan dengan rata-rata kenaikan 23 persen selama tujuh tahun belakangan ini.
“Dari beberapa tahun belakangan ini, pergerakan pariwisata domestik memang sudah berperan sangat penting, bahkan telah menjadi tulang punggung pergerakan pariwisata nasional itu sendiri,†kata Awan Aswinabawa, Dewan Pengawas DPP Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO).
Bahkan, menurut Awan, adanya isu resesi global tidak berdampak secara signifikan terhadap pariwisata domestik. Hal ini diperkuat dengan prediksi dari Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) bahwa Indonesia akan mencatat ekonomi positif mulai dari 4,7 hingga 5 persen di tahun ini.
“Pemerintah kita juga sudah prediksi ada pertumbuhan 5,3 persen bagi ekonomi nasional. Angka ini akan menjadi indikator bagi pariwisata Indonesia, khususnya domestik, untuk bisa tumbuh sejalan dengan angka-angka tersebut,†ujar Awan pada acara Wise Tourism Forum memlaui zoom 16 Maret 2023.
Menurutnya, ada beberapa segmen utama yang mendukung kesuksesan pariwisata domestik. Antara lain instansi pemerintah dan korporat yang masing-masing unggul dalam kegiatan MICE. Lalu ada segmen keluarga yang lebih banyak untuk berlibur, serta komunitas atau klub, khususnya yang berkaitan dengan olahraga atau special interest.
“Keempat segmen di atas memang sudah mendominasi pasar domestik sejak lama. Tetapi, saat ini ada segmen baru yang menunjang domestik, yaitu berasal dari nomadic tourist. Mereka biasanya berasal dari kalangan milenial yang suka melakukan workation atau bekerja sambil liburan,†jelasnya lagi.
Upgrade Destinasi
Meskipun pariwisata domestik tumbuh positif, Awan menilai masih banyak hal yang harus diperbaiki dari destinasi wisata di Indonesia, terutama dari segi kebersihan. Selain kebersihan, pengelola destinasi juga harus meningkatkan akses yang mudah dan nyaman.
“Mereka harus meningkatkan kualitas dan kuantitas akses konektivitas dari sumber-sumber pasar menuju destinasi yang ada. Dulu mungkin wisatawan malas jalan-jalan karena akses yang kurang baik, tetapi dengan adanya fasilitas tersebut mereka jadi mau pergi,†ujar Awan.
Pengelola destinasi juga harus memastikan produk dan layanan yang diberikan sesuai dengan keinginan pasar masa kini. Salah satu produk yang harus dipersiapkan adalah kegiatan luar ruangan yang diisi dengan proses pembelajaran, interaksi bersama komunitas, serta pengalaman menarik lainnya.
“Wisatawan bersama komunitas dapat bersama-sama membangun sebuah lingkungan yang subur, rehabilitasi hutan bakau, memperbaiki terumbu karang, hingga mendirikan sekolah di sana. Hal-hal seperti ini yang harus kita siapkan sekarang,†ucapnya.
Produk lainnya yang juga harus dipersiapkan berkaitan erat dengan alam, budaya, kerajinan, hingga kuliner. Destinasi pilihan wisatawan harus memiliki homestay dengan sanitasi yang baik, berbagai atraksi, tempat kuliner, hingga cenderamata.
“Pokoknya, mereka harus menyediakan produk dan layanan yang cocok dengan pasar. Artinya, kita dituntut untuk adaptif, inovatif, dan memberikan harga terjangkau,†Awan menambahkan.
Didukung Wisatawan Mancanegara
Pariwisata Indonesia ternyata juga disukai oleh sejumlah wisatawan mancanegara (wisman), khususnya dari negara tetangga. Berdasarkan data yang diterima oleh Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara yang paling banyak dikunjungi se-ASEAN pada tahun 2020. Peringkat pertama ditempati oleh Thailand, disusul oleh Malaysia.
Febriansyah, Komite ASEAN DPP ASITA, menilai, Indonesia menawarkan akses yang mudah bagi wisman, khususnya yang berasal dari pasar ASEAN. Tak hanya itu, pilihan atraksi dan banyaknya amenitas yang ditawarkan membuat pariwisata Indonesia di mata ASEAN semakin terdepan.
“Penerbangan langsung dari negara ASEAN ke Indonesia juga sudah semakin banyak. Pilihan hotel berbintang juga sudah banyak, begitu pula dengan daya tarik wisata yang ditawarkan memiliki potensi luar biasa,†kata Febri.
“Bahkan, data Januari 2023 dari BPS, Batam berada di posisi kedua setelah Bali. Ini sangat mungkin terjadi karena negara ASEAN paling dekat itu masuk melalui Batam,†dia menambahkan.
BPS mencatat jumlah kunjungan wisman yang masuk melalui Bali per Januari 2023 adalah 331.912 orang. Kemudian, wisman yang masuk melalui Batam ada 120.648 orang, dan DKI Jakarta berjumlah 115.671 orang.
Melihat data tersebut, pemerintah Batam sangat serius untuk menggarap pasar ASEAN dengan melakukan pembangunan infrastruktur di beberapa kawasan. Pemerintah mulai membangun sejumlah destinasi wisata baru, memperbarui bandara menjadi skala internasional, hingga membuat lima jalur pada jalanan di Batam.
Pasar ASEAN yang saat ini tengah diincar oleh Batam berasal dari negara Singapura, Malaysia, dan Filipina. Pada tahun 2019, wisman asal Singapura berhasil menduduki peringkat pertama masuk ke Batam dengan total 1.055.758 orang. Lalu, Malaysia berjumlah 219.394 orang, dan Filipina 48.560 wisman.