

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu wellness, nature, dan lingkungan tak hanya di Indonesia, melainkan menjadi tren global di berbagai aspek. Dalam memilih produk mi instan misalnya, citra produk yang menyehatkan, aman dikonsumsi setiap hari, dan ramah lingkungan ditengarai lebih diminati, meskipun dari sisi harga jauh lebih mahal.
“Perilaku konsumen berubah, salah satunya karena isu lingkungan. Bahkan ada beberapa MENYENANGKAN Pandemi COVID menggeser perilaku masyarakat pada pelbagai aspek. Dalam industri MICE, isu terkait dengan wellness, nature, dan aktivitas di luar ruang bakal menjadi primadona. kasus di Indonesia, di mana konsumen batal beli produk karena produknya dinilai tidak ramah lingkungan,†kata pakar branding Silih Agung Wasesa.
Pengemasan program incentive trip pun serupa. Isu wellness, wisata alam, dan aktivitas luar ruang ditengarai menjadi tren pasca-pandemi. “Wisata alam pasti akan menjadi tren ke depan. Beberapa obyek wisata outdoor (luar ruang) mulai ramai dan dipersiapkan pasca-pandemi,†kata Sany Barley, Account Director Orange Incentive House.
Lebih lanjut ia menjelaskan, aspek protokol kesehatan juga menjadi hal utama yang disoroti oleh perusahaan yang mengirimkan karyawan atau mitra bisnis dalam program insentif trip. Dan itu tentu akan berimplikasi pada biaya program yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Hal itu dibenarkan oleh Evi Jo, Vice President PT Bank Central Asia. “Kami mengutamakan kesehatan dan keselamatan karyawan kami, begitu pula nasabah. Untuk itu kemampuan tracing sebuah destinasi menjadi penting agar kesenangan itu tak berubah menjadi petaka,†katanya.
Sementara itu, kuantitas jumlah peserta juga ditengarai bakal menciut. Apabila jumlah peserta program incentive trip bisa mencapai ratusan atau bahkan ribuan, di masa pandemi ini jumlahnya menciut di angka puluhan.
Misalnya, jika perusahaan biasanya membuat program incentive trip untuk 100 peserta sekaligus, maka pada masa pandemi ada kecenderungan itu akan dibagi menjadi beberapa kelompok keberangkatan.
“Tidak perlu dalam jumlah besar, bisa dibagi, berangkat dalam jumlah kecil. Sehingga tidak ada kerumunan juga,†kata Nurfahmi, Ketua Umum AELI (Asosiasi Experiential Learning Indonesia).
Selain jumlah peserta program yang menciut dan penerapan protokol kesehatan yang ketat, juga terjadi pergeseran dalam pemilihan destinasi incentive trip ke destinasi domestik.
Mafhum, untuk pelesiran ke luar negeri ada ketentuan karantina. Hal itu tak hanya memakan waktu, melainkan juga membuat biaya perjalanan bertambah mahal.
Hal itu tentu berbuah positif bagi pariwisata lokal. Rupiah yang dari perjalanan ke luar negeri dapat dialihkan ke sejumlah destinasi di nusantara sehingga sektor pariwisata dapat berkontribusi untuk perekonomian TAJUK nasional yang masih “sakit†akibat pandemi COVID 19.
Momentum itu selayaknya dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha untuk mengemas program incentive trip yang kreatif dan inovatif. Alhasil, keragaman potensi destinasi wisata domestik dapat dimonetisasi.
Namun, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian para provider ketika akan mengemas program incentive trip bahwa tujuan dari pelaksanaan incentive trip tetap harus tercapai. Semisal karyawan
"Kalau hanya sampai pada happy, sayang investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Karena dunia pariwisata yang menyenangkan ini bisa membantu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di dalam sebuah organisasi,"
atau klien menjadi lebih engage dengan perusahaan, dan bisa melakukan benchmark guna meningkatkan pelayanan dan inovasi.
Terkait itu, Nurfahmi menjelaskan bahwa dalam program itu harus ada perubahan rasa. Peserta dapat belajar dari nilainilai yang ditemukannya, kemudian menimbulkan performa yang lebih baik.
“Kalau hanya sampai pada happy, sayang investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Karena dunia pariwisata yang menyenangkan ini bisa membantu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di dalam sebuah organisasi,†kata Nurfahmi.