

Sektor pameran mulai menunjukkan grafik pertumbuhan positif di beberapa negara, tak terkecuali di Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI), ada sekitar 164 pameran yang berlangsung sepanjang 2022 dengan total luas lahan yang digunakan mencapai 1.067.332 meter persegi, naik kurang lebih dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan industri itu juga tercermin dari kinerja yang berhasil dibukukan PT Dyandra Media International Tbk, salah satu perusahaan pameran besar di Indonesia. Pada 2022, Dyandra berhasil memperoleh pendapatan sebesar Rp1,2 triliun, naik 115 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan pendapatan bersih yang berhasil dihimpun sebesar Rp30,7 miliar.
Adapun kontribusi terbesar pendapatan Dyandra ditopang oleh bisnis event/exhibition organizer sebesar 80 persen, bisnis convention & exhibition hall 13 persen, bisnis hotel 4 persen, dan bisnis pendukung event sebesar 3 persen.
Optimisme juga disampaikan oleh Muhammad Reza Abdullah, Direktur Utama PT Royalindo Expoduta. Menurutnya, industri pameran tahun ini sudah membaik. “Beberapa perusahaan sudah ada yang membukukan kinerja seperti tahun 2019,†katanya.
Realitas pertumbuhan sektor pameran di Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara selaras dengan hasil survei yang dilakukan oleh The Global Association of The Exhibition Industry (UFI).
Dalam laporan UFI Global Barometer 2023, dipaparkan bahwa revenue rerata industri pameran di Asia Pacific pada 2022 dibandingkan 2019 (sebelum pandemi) berada di level 66 persen. Dan pada 2023, rerata revenue perusahaan pameran di Asia Pacific sekitar 82 persen, mendekati pencapaian pendapatan sebelum pandemi.
Di kawasan Asia Tenggara, pertumbuhan industri pameran di Indonesia serupa dengan Thailand. Salah satunya perhelatan The 44th Bangkok International Motor Show. Dari sisi luas area pameran, jumlah visitor dan exhibitor serupa dengan pelaksanaan sebelum pandemi COVID 19. Padahal, di belahan dunia lain, beberapa pameran otomotif justru tengah mengalami kemunduran.
“Indonesia dan Thailand itu cepat pulih karena perekonomiannya ditopang oleh sektor UMKM. Berbeda dengan Singapura yang pulihnya tidak secepat kita,†kata Reza.