

Tahun ini Indonesia kembali mendapat giliran menduduki posisi Keketuaan ASEAN. Sebelumnya Indonesia pernah menjadi Keketuaan ASEAN pada 1976, 1996, 2003, dan 2011.
Dari kacamata pelaku pariwisata dan MICE, Indonesia sebagai Keketuaan ASEAN merupakan ladang meraup cuan. Mafhum, rangkaian pertemuan Sekretariat ASEAN sepanjang tahun ini jumlahnya mencapai 535 acara, dan 336 diantaranya berlangsung di beberapa destinasi di Indonesia seperti Jakarta, Bali, Labuan Bajo, Magelang, Belitung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor.
Berbeda dengan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, rangkaian kegiatan Keketuaan ASEAN memiliki dua pertemuan yang dihadiri oleh para kepala negara. Perhelatan pertama berlangsung pada 9-11 Mei di Labuan Bajo. Pertemuan kedua berlangsung pada 4-7 September di Jakarta.
Jakarta sudah punya pengalaman panjang menjadi tuan rumah perhelatan event internasional. Sarana dan prasarana penunjang kegiatan MICE yang dimiliki Jakarta terlengkap apabila dibandingkan dengan kota lainya. Selain itu, Jakarta juga mempunyai aksesibilitas yang mudah dijangkau dan mengoleksi banyak SDM MICE berkualitas.
Sementara itu, ini merupakan debut perdana bagi Labuan Bajo menjamu banyak kepala negara di event berskala internasional. Serangkaian persiapan pun masih berlangsung guna mensukseskan pelaksanaan KTT ASEAN.
Terkait dengan ketersediaan kamar hotel untuk para delegasi misalnya. Setidaknya dibutuhkan lebih dari 1.000 kamar hotel berbintang. Tak ayal terjadi pertumbuhan kamar hotel yang signifikan setelah Labuan Bajo ditetapkan sebagai destinasi KTT ASEAN 2023.
Dilansir dari Kompas.com. Jumlah kamar hotel di Labuan Bajo telah bertumbuh dari 800 kamar pada 2015, menjadi 1.815 kamar pada 2021.
Menurut Muhammad Reza Abdullah, Direktur Utama Royalindo Expoduta, dipilihnya Labuan Bajo sebagai tuan rumah KTT ASEAN akan berkontribusi positif terhadap perekonomian nasional, baik secara langsung maupun tak langsung.
Dampak langsung pada perekonomian tercermin dari pengeluaran delegasi untuk kebutuhan akomodasi, makan minum, rental kendaraan hingga biaya belanja souvenir para.
“Rombongan satu negara itu kurang lebih 100 orang, jika ada 10 negara ASEAN, maka total delegasinya mencapai 1.000 orang,†katanya.
Rerata pengeluaran turis MICE di kawasan Asia itu sebesar USD 1.500 atau sekitar Rp 22,5 juta per kunjungan. Jadi total pengeluaran para delegasi ketika bertandang ke Labuan Bajo dapat mencapai Rp22,5 miliar.
Sedangkan dampak tak langsung menjadi tuan rumah KTT ASEAN adalah mempromosikan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata dunia. Pasalnya, dalam kegiatan tersebut setidaknya ada 400-500 jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional yang bertandang untuk meliput.