

Pamor Belitung sebagai tujuan wisata semakin meroket berkat kesuksesan film Laskar Pelangi. Selain mengangkat cerita tentang dunia pendidikan di Belitung, film yang diluncurkan pada 2008 tersebut turut menampilkan keindahan alam di pulau Belitung, terutama wisata pantainya.
Wajar saja, Belitung dianugerahi pantai yang indah dan memiliki ciri khas tersendiri, yaitu adanya batu-batu besar di tepi pantai.
Dampak dari popularitas film Laskar Pelangi langsung terasa. Belitung yang tadinya terkenal sebagai pulau timah, kini mulai bertransformasi menjadi pulau wisata. Jumlah akomodasi pun semakin banyak di Belitung.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 ada 23 hotel berbintang dengan 1.490 kamar di Pulau Belitung. Selain itu, untuk hotel non-bintang jumlahnya mencapai 42 hotel dengan 726 kamar.
Sebagai perbandingan, pada 2012 hanya ada 6 hotel berbintang di Pulau Belitung. Jumlahnya kemudian naik menjadi 9 hotel pada 2013, 11 hotel pada 2015, dan 21 hotel pada 2016.
Begitu juga dengan kunjungan wisatawan yang semakin bertambah. Pada 2010, jumlah kunjungan wisatawan ke Belitung hanya sekitar 30.000 orang. Kemudian, pada 2019, jumlah kunjungan wisatawan ke Belitung naik lebih dari 11 kali lipat menjadi 348.154 orang, yang terbagi atas 19.063 wisatawan mancanegara dan 329.031 wisatawan nusantara.
Sejak kesuksesan film Laskar Pelangi, ada dua lokasi syuting yang selalu menjadi incaran para wisatawan, yaitu Pantai Tanjung Tinggi di Kabupaten Belitung dan SD Muhammadiyah di Belitung Timur.
Namun, Belitung tak hanya memiliki dua destinasi tersebut. Masih banyak wisata alam lainnya yang dapat dijelajah, antara lain Museum Kata Andrea Hirata, Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas, Pulau Pasir, Pantai Penyabong, Pantai Tanjung Pendam, dan Pulau Belayar.
Museum Kata Andrea Hirata tak hanya menampilkan koleksi terkait sastra Indonesia dan juga luar negeri, tapi juga menampilkan informasi mengenai proses penerbitan novel Laskar Pelangi hingga pembuatannya menjadi sebuah film.
Sementara itu, pantai-pantai yang ada di Belitung memiliki keunikan yang berbeda dibandingkan pantai lainnya di Indonesia. Mayoritas pantai di Belitung memiliki karakter yang sama, yaitu keberadaan batu granit berukuran besar yang tersebar di sepanjang bibir pantai. Batu-batu tersebut menambah keindahan pantai, salah satunya sebagai latar untuk berfoto-foto.
Jarak Belitung yang hanya 45 menit penerbangan dari Jakarta juga menjadi salah satu keunggulan untuk menarik lebih banyak wisatawan. Sayangnya, Bandara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin di Belitung saat ini belum terkoneksi secara langsung dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Padahal, Bandara Internasional H. AS. Hanandjoeddin telah memiliki runway sepanjang 2.500 meter dan sudah dapat dilandasi pesawat seperti Boeing 737-800 NG, 737-900 ER, dan Airbus A320. Saat ini, Bandara Internasional H. AS. Hanandjoeddin memiliki kapasitas 250.000 penumpang dengan trafik sekitar 800.000 penumpang sebelum pandemi.
Potensi Belitung sebagai destinasi wisata terbukti dengan ditetapkannya Tanjung Kelayang sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Bahkan, KEK yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Maret 2019 ini termasuk ke dalam 10 destinasi pariwisata prioritas.
Dengan total luas wilayah sebesar 324,4 hektare, KEK Tanjung Kelayang memiliki konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. KEK ini diproyeksikan dapat menarik investasi sebesar Rp10,3 triliun dan proyeksi tenaga kerja sebanyak 5.000 orang pada 2036.